Skip to main content

Macam-macam Pendekatan Pembelajaran

10 Pendekatan Pembelajaran - Saat akan mengenal sesuatu, maka diperlukan pendekatan. Kata pendekatan (approach) bisa diartikan sebagai cara memulai sesuatu. Secara sederhana, pendekatan pembelajaran adalah sebuah langkah awal untuk menentukan sudut pandang yang bisa menjadi pedoman umum untuk menyusun teknik, metode dan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam proses belajar.

Macam-macam Pendekatan Pembelajaran
Macam-macam Pendekatan Pembelajaran

Fungsi pendekatan pembelajaran ini adalah untuk menjadi tolak ukur dalam perancangan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar. Untuk lebih lengkapnya, hari ini kita akan bahas seputar jenis dan macam-macam pendekatan pembelajaran.

Jenis Pendekatan Pembelajaran


Secara umum, jika dilihat dari jenis pendekatannya, maka pendekatan dalam pembelajaran dibedakan atas 2 jenis, yaitu:
  1. Pendekatan yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) adalah jenis pendekatan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak berperan aktif dalam proses pembelajaran.
  2. Dan pendekatan yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach) adalah pendekatan yang menjadikan guru sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran.

Macam-macam Pendekatan Pembelajaran


Adapun macam-macam pendekatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

1. Pendekatan Konstektual (Contextual Teaching and Learning (CTL)


Pendekatan konstektual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).

Pendekatan konstektual mewajibkan siswa lebih banyak memahami tentang makna pelajaran dan manfaatnya dan cara penerapannya dalam dunia nyata di lingkungan mereka berada.

Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu :
  1. Mengaitkan, adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
  2. Mengalami, merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
  3. Menerapkan, Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
  4. Kerjasama, Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
  5. Mentransfer, Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.
Dalam menerapkan pendekatan pembelajaran konstektual, diperlukan guru yang memiliki wawasan dalam menerapkan strategi dan metode pembelajaran yang lebih bermakna dan nyata.

Kelebihan pendekatan konstektual adalah siswa memiliki pengalaman belajar yang lebih nyata dan mudah mereka kaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Sementara kekurangan dari pendekatan konstektual adalah guru lebih intensif dalam memberikan bimbingan dengan memandang siswa sebagai individu yang sedang berkembang dan harus dibimbing.

2. Pendekatan Kontruktivisme


Pendekatan kontruktivisme adalah pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas peserta didik dalam menyalurkan ide-ide baru yang diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.

Dalam pendekatan kontruktivisme, siswa lebih banyak diberi kesempatan untuk menyalurkan ide-ide sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik secara pribadi. Sementara peran guru hanya sebagai pembimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran.

Bisa dikatakan, pendekatan kontruktivisme lebih mengutamakan pembelajaran langsung melalui keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui penelitian atau pengamatan langsung yang memungkinkan siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan fakta yang ditemukan yang tetap sesuai dengan kajian teori.

Adapun karakteristik pendekatan konstruktivisme menurut Driver (dalam Paul, 1996:69) bahwa karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:
  1. Orientasi ialah siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik
  2. Elicitasi ialah membantu siswa untuk mengungkapkan idenya secara jelas
  3. Retrukturisasi ide terdiri dari klarifikasi ide, membangun ide yang baru, mengevaluasi ide baru dengan eksperimen
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi
  5. Review adalah bagaimana ide itu berubah.
Menurut Nurhadi (2003:39), penerapan pendekatan konstrutivisme dapat dilakukan dalam 5 langkah pembelajaran sebagai berikut.

1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada


Pengetahuan awal yang sudah dimiliki peserta didik akan menjadi dasar awal untuk mempelajari informasi baru. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara pemberian pertanyaan terhadap materi yang akan dibahas.

2. Pemerolehan pengetahuan baru


Pemerolehan pengetahuan perlu dilakukan secara keseluruhan tidak dalam paket yang terpisah-pisah.

3. Pemahaman pengetahuan


Siswa perlu menyelidiki dan menguji semua hal yang memungkinkan dari pengetahuan baru siswa.

4. Menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh


Siswa memerlukan waktu untuk memperluas dan memperhalus stuktur pengetahuannya dengan cara memecahkan masalah yang di temui.

5. Melakukan refleksi


Pengetahuan harus sepenuhnya dipahami dan diterapkan secara luas, maka pengetahuan itu harus dikontekstualkan dan hal ini memerlukan refleksi.

Kelebihan pendekatan jenis konstrutivisme adalah siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran secara langsung. Peserta didik dapat membangun sendiri pengetahuannya dengan suasana belajar yang menyenangkan.

Sementara kekurangan dari pendekatan konstruktivisme adalah siswa masih kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya dan butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan jawaban. Karena itu, guru sebagai pembimbing harus memotivasi siswa agar dapat menemukan jawabannya.

3. Pendekatan Deduktif


Pendekatan deduktif juga sering disebut pembelajaran tradisional. Teknik pendekatan pembelajaran jenis ini dimulai dari guru yang memberikan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Pendekatan deduktif lebih mengedepankan transfer pengetahuan atau informasi guru kepada siswa sehingga tidak banyak mengaitkan pembelajaran dengan pengamalan peserta didik.

Menurut Sagala (2010:76), pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus.

Menurut Yamin (2008:89) pendekatan deduktif dapat dipergunakan bila:
  1. Siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari,
  2. Isi pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berfikir kritis,
  3. Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicaraan yang baik,
  4. Waktu yang tersedia sedikit.
Menurut Sagala (2010:76) langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam pembelajaran adalah
  1. Guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif,
  2. Guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi dan contoh-contohnya,
  3. Guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus dengan aturan prinsip umum,
  4. Guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan gambaran dari keadaan umum.
Dalam penerapannya, konsep belajar dengan pendekatan deduktif memiliki kelebihan seperti lebih hemat waktu dan rumus bisa diterapkan langsung ke dalam soal atau masalah yang ada. Sementara kelemahan pendekatan deduktif adalah siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami contoh yang diberikan karena konsepnya yang baru dipelajari.

Selain itu, pendekatan deduktif juga membuat peserta didik sering bosan belajar karena metode yang digunakan kurang bisa memupuk kemampuan siswa dalam mengembangkan kreatifitas. Tidak hanya itu, tidak jarang informasi yang disampaikan guru sudah diketahui oleh sebagian siswa sehingga tidak ada informasi baru yang diserap.

4. Pendekatan Induktif


Pendekatan induktif adalah pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada pengamatan terlebih dahulu lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan yang dilakukan. Menurut Yamin (2008:89), pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut.

Menurut Yamin, pendekatan induktif efektif diterapkan jika:
  1. Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut,
  2. Yang diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan, dan pengambilan keputusan,
  3. Pengajar mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan terampil mengulang pertanyaan, dan sabar,
  4. Waktu yang tersedia cukup panjang.
Menurut Sagala (2010:77) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif yaitu:
  1. Memilih dan mementukan bagian dari pengetahuan (konsep, aturan umum, prinsip dan sebagainya) sebagai pokok bahasan yang akan diajarkan.
  2. Menyajikan contoh-contoh spesifik dari konsep, prinsip atau aturan umum itu sehingga memungkinkan siswa menyusun hipotesis (jawaban sementara) yang bersifat umum.
  3. Kemudian bukti-bukti disajikan dalam bentuk contoh tambahan dengan tujuan membenarkan atau menyangkal hipotesis yang dibuat siswa.
  4. Kemudian disusun pernyataan tentang kesimpulan misalnya berupa aturan umum yang telah terbukti berdasarkan langkah-langkah tersebut, baik dilakukan oleh guru atau oleh siswa.
Kelebihan pendekatan induktif adalah siswa lebih mandiri karena memiliki lebih banyak kesempatan untuk berusaha sendiri menemukan konsep. Hal ini tentu akan membuat siswa lebih mudah memahami dan mengingat konsep yang sedang dipelajari dan bisa meningkatkan semangat belajar.

Sementara kekurangan dari pendekatan induktif adalah memerlukan lebih banyak waktu dan juga seringkali hanya sebagian siswa yang terlibat secara aktif.

5. Pendekatan Konsep


Pendekatan konsep menekankan peserta didik menguasai konsep secara benar agar tidak terjadi miskonsepsi atau kesalahan konsep. Pendekatan konsep adalah pendekatan pembelajaran secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati cara konsep tersebut diperoleh.

Langkah-langkah belajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap:
  1. Tahap enaktif, yang dimulai dari pengenalan benda konkret, menghubungkan pengalaman lama atau berupa pengalaman baru, pengamatan dan penafsiran tentang benda baru.
  2. Tahap simbolik siperkenalkan dengan: Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf. kode, seperti (?=,/) dll. Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya. Memberi nama, dan istilah serta defenisi.
  3. Tahap Ikonik adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak, seperti: Menyebut nama, istilah, definisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya.

6. Pendekatan Proses


Pendekatan proses adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan dan penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan pembelajaran ini lebih mengedepankan proses ketimbang hasil.

Pendekatan proses ini sangat penting dalam melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik.

Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.

Kelebihan pendekatan proses adalah memberi bekal cara memperoleh pengetahuan yang sangat penting dalam pengembangan pengetahuan di masa depan. Namun kelemahan dari pendekatan proses adalah memerlukan banyak waktu yang seringkali juga sulit untuk dapat menyelesaikan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.

7. Pendekatan Open - Ended


Menurut Suherman, dkk. (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan denganOpen-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.

Contoh penerapan masalah open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika peserta didik diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada hasil atau jawaban akhir.

Kelebihan pendekatan open-ended adalah guru memberikan contoh kasus permasalahan kepada isswa yang solusinya dapat dilesesaikan sesuai dengan kreatifitas siswa. Dari keragaman prosedur dan teknik yang ditemukan oleh siswa, dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan pengetahuan bahwa tidak hanya ada satu jalan dalam menyelesaikan suatu kasus permasalahan.

Adapun kelemahan dari pendekatan open-ended adalah sulit membuat situasi masalah matematika yang bermakna bagi siswa.

8. Pendekatan Saintifik


Kurikulum 2013 untuk semua jenjang adalah contoh pendekatan saintifik. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Dalam pembelajaran dengan metode pendekatan ilmiah (saintific approach), semua mata pelajaran dimulai dari menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data dan informasi untuk disajikan kemudian dianalisis dengan nalar yang disimpulkan untuk mencipta.

Dalam penerapannya, pendekatan ilmiah tidak selalu diaplikasikan secara prosedural namun tetap menerapkan nilai-nilai dan sifat ilmiah serta menghindari nilai-nilai nonilmiah.

Tujuan pembelajaran pendekatan saintifik adalah untuk meningkatkan kemampuan intelek peserta didik, terutama dalam kemampuan berpikir dan menganalisis.

Langkah-langkah pendekatan saintific dimulai dari observasi, mengajukan pertanyaa, menalar, mencoba dan membentuk jejaring untuk mengkomunikasikan hasil pengamatan dan mengambil kesimpulan berdasarkan hasil analisis.

9. Pendekatan Realistik/Realistic Mathematics Education (RME)


Realistic Mathematics Education (RME) adalah metode pendekatan yang dikembangkan oleh Hans Frudential di Belanda. RME adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang nyata bagi siswa, menekankan keterampilan proses of doing mathematics.

Pendekatan pembelajaran metode RME ini lebih banyak menggunakan pembelajaran dari masalah sehari-hari sebagai sumber inspirasi pembentukan dan pengaplikasian konsep.

Pada pendekatan realistik, peran guru tidak lebih dari seorang fasilitator, moderator, atau evaluator. Sedangkan murid lebih banyak berpikir, mengkomunikasikan argumen, mengklasifikasikan jawaban, serta belajar menghargai strategi dan pendapat orang lain.

Secara umum, tujuan dari pendekatan realistik (RME) adalah untuk menjadikan matematika lebih menarik, relevan dan bermakna, tidak terlalu formal dan tidak terlalu abstrak.

Adapun langkah-langkah pembelajaran matematika realistik adalah sebagai berikut.
  1. Memahami masalah konstektual berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Menjelaskan masalah agar siswa dapat lebih memahami masalah yang dihadapi.
  3. Menyelesaikan masalah dengan mendeskripsikan masalah konstektual dan memikirkan strategi pemecahan masalah.
  4. Membandingkan jawaban dari setiap individu dalam kelompok berpasangan untuk mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan.
  5. Guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan dari rumusan konsep atau prinsip dari topik yang dipelajari.
Kelebihan dari pembelajaran matematika realistik adalah pelajaran menjadi lebih menyenangkan bagi siswa sehingga siswa lebih banyak siswa yang bisa menarima materi dengan baik. Selain itu, guru lebih tertantang untuk menggunakan media-media pembelajaran yang kreatif.

Kelemahan pendekatan pembelajaran matematika realistik adalah cukup sulit diterapkan dalam suatu kelas yang besar dan juga dibutuhkan waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran.

10. Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat (Science, Technology and Society / STS)


Pendekatan sains, teknologi dan masyarakat atau dalam bahasa Inggris disingkat STS (Sains Technology) merupakan gabungan dari pendekatan konsep, keterampilan proses, inkuiri, dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. Pada pendekatan STS, peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep berdasarkan pengetahuan yang telah mereka ketahui.

Pendekatan STS adalah pendekatan terpadu antara sains, teknologi dan isu-isu yang ada di masyarakat. Tujuan dari pendekatan pembelajaran jenis ini adalah untuk menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya.

Kesimpulan Pendekatan Pembelajaran


Pendekatan pembelajaran adalah sebuah langkah awal tentang konsep dan metode belajar mengajar yang akan diterapkan. Pendekatan-pendekatan tersebut akan menjadi inspirasi dalam menentukan strategi pembelajaran.

Lihat juga Macam-macam Model Pembelajaran Kreatif

Demikianlah macam-macam pendekatan pembelajaran. Semoga bermanfaat!

Sumber referensi

http://sakinahninaarz009.blogspot.com/2014/06/macam-macam-pendekatan-pembelajaran.html
  September 29, 2019
Comment Policy: Tulis Komentar Anda Sesuai dengan Isi Artikel!
Buka Komentar
Tutup Komentar
close