Skip to main content

5 Fakta Pemilu 2019: Menarik Sekaligus Menyedihkan

Fakta Pemilu 2019: Menarik Sekaligus Menyedihkan - Meskipun Pemilu telah usai, euforia Pemilu sampai hari ini masih terasa segar. Pemilu yang diadakan 5 tahun sekali ini selalu meninggalkan cerita-cerita tersendiri. Ada yang kalah dan ada yang menang. Dan apa sajakah fakta pemilu 2019?

5 Fakta Pemilu 2019: Menarik Sekaligus Menyedihkan
5 Fakta Pemilu 2019: Menarik Sekaligus Menyedihkan

Sayang sekali hari ini saya tidak ingin membahas tentang fakta pilpres 2019 atau semacamnya. Fakta-fakta pemilu 2019 seperti banyaknya hoax yang beredar, pemilu serentak pertama bersejarah atau lainnya, tentang berita terbaru dunia politik sebaiknya kamu cek sendiri di IdnTimes, atau Liputan6.

Hari ini saya akan membahas tentang hal-hal yang everlasting tentang pemilu secara khusus calon legislatif dan masyarakat Indonesia sebagai pemilih. Beberapa fakta yang terlihat dari sudut pandang pribadi saya (subjektif) selama ini dalam pemlihan calon legislatif baik itu DPRD kota.kabupaten, provinsi atau pusat. Terutama caleg daerah kabupaten/kota.

Fakta Pemilu 2019: Teknik Untuk Menang dan Dampak Setelah Pemilu


Fakta Pemilu 2019 yang menarik adalah dari beberapa pemilihan umum sebelumnya seperti pemilu 2014, masih banyak kesamaan teknik dari para calon anggota legislatif dan dampaknya setelah pemilu usai. Dan tak ketinggalan sikap masyarakat dalam menghadapi pemilu.

Apa saja fakta pemilu 2019 yang menarik sekaligus menyedihkan di kalangan calon legislatif dan masyarakat sebagai pemilih?

1. Caleg datang membawa janji


Umumnya, atau khusus di tempat saya mengamati, masyarakat cenderung tidak peduli kepada prestasi dan kecanggihan visi misi calon legislatif. Sebagian masyarakat lebih melihat janji dan mengharapkan sedikit "uang" untuk menentukan pilihannya.

Alhasil, ketika terpilih menjadi anggota dewan, sebagian dari mereka acuh tak acuh kepada masyarakat. Mungkin pikiran mereka berkata: "Saya beli suara rakyat". Miris sekaligus sangat menyedihkan.

Uang 50k, 100k, 300k, atau berapa lah per suara, tergantung persaingan biasanya, bisa habis dalam sejam. Singkat sekali bapak ibu dan saudara-saudara. Sementara wakil-wakil rakyat harus mewakili  kita selama 5 tahun ke depan.

Karena itu, menjual suara dalam pemilu demi "uang receh", (bukan berarti saya) adalah salah satu kebodohan yang harus ditinggalkan. Jangan sampai 5 tahun menderita hanya karena uang yang bisa habis dalam waktu singkat, sekejap mata.

2. Caleg: "Kita keluarga", jadi anggota dewan: "Siapa ya?"


Teknik lama namun cukup mengesankan. Meskipun harus diakui kalau teknik ini cukup ketinggalan zaman di era generasi milenials hari ini. Hampir sebagian besar caleg akan datang dan mengaku sebagai keluarga.

Paling tidak keluarga dari nenek yang jauhnya sudah ratusan mil km. Atau memang ada keluarga dekat yang baru muncul setelah akan menjadi calon legislatif untuk meminta dukungan. "Selama ini ke mana aja bos?"

Dengan ramah mereka datang ke dalam suatu desa. Dari atas mobil melambaikan tangan disertai senyuman sumringah yang manis. Setelah terpilih, lupa diri. Benarlah kata pepatah: "Bagai kacang yang lupa kulit".

Beruntunglah kalau si caleg tersebut masih lewat di desa pelosok yang sama setelah terpilih sekalipun dengan kacamata hitam dan jendela mobil tertutup bergaya tak kenal.

3. Wakil rakyat lupa kepanjangan DPR


Tidak sedikit anggota dewan terpilih yang lupa kepanjangan DPR. Terbukti dengan banyaknya kasus korupsi di kalangan orang-orang yang katanya adalah wakil rakyat tersebut. Yang lebih memalukan lagi, ketika tertangkap basah, dengan beraninya mereka melakukan konferensi pers dengan tersenyum tanpa rasa malu.

Pak jangan lupa dengan masyarakatnya. Anggaran aja yang dibahas tapi kok gak ada dampaknya ke masyarakat. Karena itulah, beberapa teman saya mengatakan: "Siapa pun yang terpilih, toh saya tetap jadi penjual gorengan".

4. Pemilih yang tidak belajar dari kesalahan


Entah apa yang ada dipikiran beberapa masyarakat. Jelas-jelas si caleg pada periode sebelumnya ketika menjadi anggota dewan tak sekalipun menginjakkan kakinya di desa yang telah memenangkannya.

Bahkan, dalam pemilu 2019 ini, anggota dewan tersebut menjadi caleg kembali. Anggota dewan yang memang cenderung pintar tahu kesalahannya. Dan memang ia tidak kampanye lagi secara langsung di desa itu. Kecuali baliho-balihonya saja yang datang.

Herannya saya, kok masih ada warga di situ yang mau kampanye untuk caleg lupa diri itu? Aneh sekaligus ganjil. Jika ada pengusaha sukses di situ, pasti ia akan bertanya: "Kenapa kamu belum sukses?" yang langsung dijawabnya: "Karena kamu belum belajar dari pengalaman! Experience is the best teacher".

5. Rumah tangga pecah dan hubungan dengan tetangga retak


Salah satu hal yang paling menyedihkan adalah keluarga yang retak dan hubungan silaturahmi menjadi renggang hanya karena beda pilihan. Bahkan yang paling menyedihkan adalah hubungan rumah tangga yang pecah hanya karena beda perspektif dalam memilih pasangan caleg dan capres.

Tapi itu dulu. Dari pengamatan saya, dalam pemilu 2019 ini masyarakat sudah cenderung berpikir positif dan menjadikan pemilu sebagai ajang politik dan pesta demokrasi yang harus dirayakan. Beda pilihan itu wajar dan jangan sampai hubungan retak gara-gara caleg masing-masing.

"Yang duduk siapa yang panas siapa? Beruntunglah jika caleg yang dipilih setelah terpilih memang memperhatikan kemajuan masyarakatnya. Kalau tidak kan rugi sendiri. Benar kan?

Itulah fakta-fakta pemilu 2019 dan fakta-fakta pemilu selama ini dari dulu sampai sekarang masih belum banyak perubahan. Ini baru fakta seputar legislatif. Belum lagi fakta pilpres pada pemilu 2019 yang dipenuhi oleh berita-berita hoax dan lainnya.

Banyak yang harus diubah. Tapi yang paling dasar adalah pola pikir dan mental masyarakat dalam memilih wakilnya. Begitu pun dengan caleg, semoga kedepannya mereka bertarung dalam pesta demokrasi atas nama prestasi dan kehebatan visi dan misi. Bukan hanya datang dengan janji dan sedikit uang.

Tidak banyak masyarakat yang mengerti bahwa uang dalam pemilu itu racun yang membunuh secara perlahan. Mungkin seperti permen yang manis hanya diawalnya, tapi berakibat buruk pada gigi di kemudian hari.

Harapan tertumpu pada milenials. Generasi milenial dan pemuda saat ini bukan lagi generasi penerus bangsa. Tapi mereka adalah pemimpin masa kini sekaligus pengawas dan harus bekerjasama dengan senior.

Lihat juga 4 Tipe manusia berdasarkan etikanya

Demikianlah fakta pemilu 2019 yang menarik dan sekaligus menyedihkan. Mari berubah! Jangan lihat sekililing Anda, lihatlah ke dalam diri kita masing-masing.
  May 19, 2019
Comment Policy: Tulis Komentar Anda Sesuai dengan Isi Artikel!
Buka Komentar
Tutup Komentar
close