Skip to main content

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara Lengkap

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara lengkap serta unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Setelah kemarin saya baca novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, hari ini giliran karya Ahmad Fuadi, yaitu Novel Negeri 5 Menara. Ini merupakan salah satu novel Indonesia recommendet yang bertema pendidikan. Seperti biasa, setelah membaca, saya akan menyempatkan diri untuk mereview kembali secara singkat jalan cerita dan isinya dalam sebuah sinopsis Novel Negeri 5 Menara.
Sinopsis Novel Negeri 5 Menara Lengkap
Sinopsis Novel Negeri 5 Menara Lengkap

Dalam artikel ini, akan ada beberapa bahasan, seperti review singkat Negeri 5 Menara dan unsur ekstrinsiknya. Selain itu, akan dibahas tentang sinopsis Negeri 5 Menara serta unsur ekstrinsiknya lengkap dengan kelebihan dan kekurangan novelini. Check it out!

Review Novel Negeri 5 Menara

 Review Film Novel Negeri 5 Menara
Review Film Novel Negeri 5 Menara - Wikipedia
Negeri 5 Menara adalah novel karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2009. Di dunia sastra Indonesia, Ahmad Fuadi termasuk salah satu penulis hebat dan terkenal.

Salah satu novel karyanya yang juga mendapat sambutan hangat dari pembaca adalah Novel Negeri 5 Menara ini. Novel ini juga telah diadaptasi ke dalam film berjudul sama "Negeri 5 Menara".

Identitas Buku

Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Bahasa : Indonesia
Penerbit : PT. Gramdedia Pusat Utama
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : XII + 423 Halaman
Harga Buku : Rp50.000

Bagaimana jalan cerita dan mengapa novel ini direkomendasikan untuk dibaca?

Banyak hal menarik dari novel Negeri 5 Menara ini. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat sinopsis serta kelebihan dan kekurangan Novel Negeri 5 Menara di bawah ini.

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara Lengkap


Novel dibuka dengan musim dingin di Washington dengan ping mesengger berbunyi.  Sebuah pesan untuk Alif dari seorang yang bernama Atang, yang saat ini sedang di Kairo. Kemudian dilanjutkan oleh rencana reuni di London bergabung bersama seseorang yang bernama Raja.

Pikiran Alif sebagai tokoh "aku" dalam cerita langsung terbang jauh ke masa lalu.

Cerita dimulai dari Maninjau, Sumatera Barat, di sebuah aula madrasah negeri ketika Alif sedang menggandeng tangan Pak Sikumbang, Kepala Sekolah di sekolahnya karena nilai ujiannya termasuk yang tertinggi di Kabupaten Agam.

Setelah lulus dari madrasah, Alif ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Untuk mengejar cita-cita menjadi seorang seperit B.J Habibie.

Tetapi Amak lebih menginginkan Alif menjadi seseorang seperti Buya Hamka, pemimpin agama yang berpengetahuan luas.

Alif sangat marah dan mogok bicara dengan Amak. Namun setelah beberapa hari mengurung diri di kamar, Alif mempertimbangkan surat dari Pak Etek Gindo, pamannya yang sedang kuliah di Mesir yang berisi tentang PM (Pondok Madani), Pesantren di Jawa Timur.

Alif kemudian memutuskan untuk ke PM menuntut ilmu agama karena tidak diizinkan masuk ke SMA. Keputusan merantau di usia muda jauh dari kampung halaman membuat Amak dan ayah Alif cukup kaget.

Pada akhirnya, Alif diizinkan untuk merantau ke Jawa untuk mendalami ilmu agama. Keputusan Alif yang setengah hati hanya karena tidak diizinkan lanjut ke SMA kemudian membuatnya gelisah.

Namun sudah tidak ada jalan lain. Ia harus mempertanggungjawabkan keputusannya. Jika tidak, ia akan malu sendiri menghadapi warga kampungnya yang sudah mengetahui keputusannya untuk ke Jawa menuntut ilmu agama.

Perjalanan dimulai ketika Alif berangkat ke PM, ditemani ayahnya. Selama beberapa hari mereka di perjalanan hingga sampai ke Jawa Timur, di sebuah tempat bernama Pondok Madani.

Hari pertama sekolah, mereka disambut oleh Ustad Salman dengan mantra ajaib yang menggebu-gebu "Man jadda wajada" yang terus digemakan berbalas-balasan. Artinya Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil!

Aturan di Pondok Madani sangat tegas dan ketat. Terlambat beberapa menit tetaplah terlambat.

Seperti di hari kedua, ketika Alif dan kelima temannya harus dicegat oleh Tyson karena terlambat ke Masjid. Mereka kemudian dihukum dan mendapat tugas menjadi Jasus.

Jasus adalah bahasa Arab yang artinya mata-mata. Mereka harus mengisi kartu jasus tersebut dengan nama-nama orang yang melakukan kesalahan di PM.

berawal dari situ, cerita ini kemudian bercerita tentang kehidupan 6 santri yang datang dari daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo, Jawa Timur.

  1. Alif Fikri Chaniago dari Maninjau
  2. Raja Lubis dari Medan
  3. Said Jufri dari Surabaya
  4. Dulmajid dari Sumenep
  5. Atang dari Bandung
  6. Baso Salahuddin dari Gowa

Kebiasaan berkumpul di bawah menara Masjid, membuat mereka memilih nama Sahibul Menara (Pemilik Menara).

Kehidupan di PM benar-benar ketat dan membuat setiap penghuninya untuk hidup patuh dan taat pada aturan serta belajar giat setiap hari. Belajar dua kali lebih giat lagi ketika akan ujian.

Keputusan setengah hati Alif untuk merantau ke PM seakan-akan mulai sirna oleh kehidupan di PM yang berbeda dari yang dibayangkan.

Meskipun kadang-kadang gelisah ketika mendapat surat dari Randai, sahabatnya dulu di Maninjau yang telah masuk ke salah satu SMA unggulan di Sumatera. Cita-cita yang selalu diinginkan oleh Alif.

Di PM, bersama dengan Sahibul Menara, ada banyak kegiatan yang membuat mereka tidak memiliki waktu untuk bersantai.

Kehidupan tidak jauh dari buku-buku tebal yang bertumpuk. Selain belajar agama, di PM juga mereka bebas memilih untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat.

Ada banyak cerita menarik lainnya. Seperti ketika liburan tiba, Alif dan Baso yang tidak memiliki ongkos untuk pulang berlibur ke kampung akhirnya diajak ke Bandung oleh Atang.

Ada banyak tempat-tempat yang mereka kunjungi. Setelah liburan di Bandung, mereka kemudian ke Surabaya karena diajak lagi oleh Said.

Setelah liburan, mereka kembali ke PM. Masih banyak cerita-cerita menarik lainnya. Seperti menjaga pos malam di PM untuk menjaga keamanan PM dari pencuri. Cerita lainnya tentang Sarah, anak dari Ustad Khalid yang selalu menjadi perbincangan hangat di antara Sahibul Menara.

Tidak terasa, mereka sudah sampai di kelas 5. Kisah sedih muncul ketika Baso, salah satu anggota Sahibul Menara memutuskan untuk pulang ke kampungnya untuk berbakti kepada neneknya yang sedang sakit dan mendalami ilmu agama serta menghapal Al-quran. Keputusan Baso dengan tujuan mulia tersebut tidak bisa dicegah oleh Sahibul Menara.

Kehilangan satu teman membuat mereka sangat sedih. Alif yang melihat keputusan berani Baso juga merasa bahwa saatnya untuk meninggalkan PM.

Ia kemudian menulis surat kepada Amak tentang niatnya itu. Beberapa hari kemudian, Alif dikunjungi oleh ayahnya untuk membicarakan tentang SMA dan tujuan selanjutnya setelah dari PM. Singkat cerita, Alif setuju untuk menuntaskan pendidikan di PM.

Di kelas 6, kelas tertinggi di PM, mereka harus mempersiapkan banyak hal. Selain ujian yang jauh lebih berat, mereka akan memberikan pertunjukkan terbaik sebelum meninggalkan PM.

Setealh 2 bulan mempersiapkan pertujukan yang disebut Class Six Show tersebut, akhirnya sukses dan mendapat nilai 9 berkat kerja keras dan kreatifitas yang tinggi.

Masih hangat tentang kesuksesan pertunjukan Class Six Show, petaka datang ketika Alif tidak sengaja mengungkapkan perjalanan mereka ke Surabaya untuk membeli es kering kebutuhan show, namun tidak meminta izin.

Hidup di pesantren Madani memiliki aturan yang tegas dan ketat. Hukum tetap hukum dan harus ditegakkan. Kesalahan terberat diganjar dengan kepala botak atau pemulangan secara tidak terhormat.

Keputusan ke Surabaya untuk membeli es kering bukanlah keputusan yang tepat, sekalipun dengan tujuan untuk menyukseskan Class Six Show. Tiga orang yang berangkat ke Surabaya, yakni anggota Sahibul Menara Said, Alif, dan Atang diganjar dengan kepala botak karena tergolong melakukan pelanggaran yang berat.

Ujian di atas ujian, ujian terakhir di PM yang berlangsung beberapa minggu dan menguras banyak tenaga selesai. Semua anggota Sahibul Menara lulus, kecuali Baso yang memang telah pulang lebih awal.

Kemudian semua kembali melanjutkan kehidupan masing-masing dan dipertukan kembali di London. Alif, Raja, dan Said, anggota Sahibul menara lainnya dalam kehidupan sekarang, yang semuanya telah hidup dalam kesuksesan meraih cita-cita sesuai dengan yang telah diukir di bawah menara PM.

Lihat juga Review Novel Dilan 1991 Karya Pidi Baiq

Resensi Unsur Intrinsik Novel Negeri 5 Menara

1. Tema


Novel Negeri 5 Menara bertema tentang kehidupan di dunia pendidikan yang penuh kerja keras dan perjuangan.

2. Alur atau Plot


Novel ini menggunakan alur maju dan alur mundur. Tokoh "aku" yang saat ini di Washington sedang dalam perjalan ke London, menceritakan kembali kehidupannya di Pondok Madani bersama dengan teman-temannya.

3. Karakter Tokoh dalam Novel Negeri 5 Menara


Berikut penokohan dalam Novel Negeri 5 Menara.

  1. Alif, tokoh "aku" adalah seorang yang cerdas dan berprestasi. Memiliki kemampuan yang lebih sebagai penulis dan juga dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Keputusannya untuk merantau ke PM karena tidak bisa lanjut ke SMA membuatnya selalu gelisah.
  2. Raja berasal dari Medan ahli dalam berpidato dan percaya diri. Memiliki hobi membaca buku dan berpengetahuan luas.
  3. Said dari Surabaya, mengidolakan Arnold Schwarzenegger dan menjadi Pemimpin tidak resmi dari Sahibul Menara karena lebih dewasa. Mendapat tugas penjaga kedisiplinan tertinggi di PM, namun kehilangan jabatan ketika dibotak karena melakukan kesalahan ketika ke Surabaya untuk pertunjukan Class Six Show. Sifat Said yang selalu positive thinking membuatnya selalu bisa menemukan hal positif dibalik kesulitan.
  4. Dulmajid dari Madura, pemain bulu tangkis sekaligus rekan Ustad Torik dalam latihan. 
  5. Atang dari Bandung, mencintai seni dan dunia teater. Patuh pada aturan dan menggunakan kacamata.
  6. Baso, dari Gowa memiliki memori fotografis dan bahasa Arab yang fasih. Ia memiliki tingkat kecerdasan di kelas dan menempati posisi pertama bersama Raja. Ia meninggalkan PM pada saat kelas 5 untuk menjaga neneknya yang sedang sakit.

Karakter Lainnya dalam Novel Negeri 5 Menara


  1. Amak, ibunda dari Alif yang menjunjung tinggi nilai agama. Seorang guru yang tegas dan disiplin. Bagi Amak, aturan tidak pandang bulu. Terbukti ketika menjadi guru Seni dan Alif mendapat nilai rendah karena tidak ikut ujian praktek.
  2. Ayah/Fikri Syafnir/Katik Parpatiah Nan, ayahanda dari Alif.
  3. Pak Etek Gindo Marajo, Paman Alif yang sedang menuntut ilmu di Kairo, Mesir.
  4. Pak Etek Muncak
  5. Ustad Salman, wali kelas Sahibul Menara di kelas 1 PM.
  6. Kiai Amin Rais, Kepala PM, menjadi idola bagi anak-anak PM dan hebat dalam bermain sepak bola.
  7. Kak Iskandar Matrufi
  8. Rajab Sujai/Tyson, penjaga kedisiplinan tertinggi PM.
  9. Ustad Torik, pemegang kekuasaan tertinggi di PM dalam hal keamanan.
  10. Raymond Jeffry/Randai, sahabat Alif yang melanjutkan pendidikan di SMA dan selalu berkirim surat dengan Alif.
  11. Ustadz Surur
  12. Ustadz Faris
  13. Ustadz Jamil
  14. Ustadz Badil
  15. Ustadz Karim
  16. Kak Jalal
  17. Amir Tsani
  18. Pak Yunus
  19. Kurdi
  20. Ustadz Khalid
  21. Shaliha
  22. Sarah, anak dari Ustads Khalid.
  23. Mbok Warsi
  24. Zamzam
  25. Pak Sutan
  26. Ismail Hamzah
  27. Pak Sikumbang, Kepala Sekolah Alif di Madrasah.
  28. Burhan

4. Latar


- Tempat : Maninjau, Pondok Madani, Jawa Timur, Ponorogo, Surabaya, dan banyak tempat lainnya.

- Suasana : Sedih, Bahagia, Menegangkan, Gelisah, Merinding, Menakuktkan

- Waktu : Dini pagi, pagi, siang, sore, malam hari.

5. Sudut Pandang


Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dengan menggunakan kata ganti "aku".

6. Gaya Bahasa


Menggunakan majas hiperbola dan personifikasi namun pas dan tidak berlebihan. Gaya bahasa Novel Negeri 5 Menara cukup mudah dipahami. Penggunaan bahasa Inggris dan Arab sedikit dan kebanyakan diartikan sehingga tidak menyulitkan pembaca.

7. Amanat


Banyak pesan moral dalam Novel Negeri 5 Menara. Seperti siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Selalu positif thinking dalam menghadapi masalah.

Bekerja keras semampu kita dan hasilnya kita serahkan ke Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal ini dapat dilihat setiap kali Alif menghadapi ujian.

Dan yang sangat penting dalam kehidupan kita adalah belajar ikhlas. Setiap melakukan pelanggaran, masyarakat PM selalu diajarkan untuk ikhlas menjalani hukuman yang diberikan.

Kelebihan Novel Negeri 5 Menara


Gaya bahasa dalam novel Negeri 5 Menara tidak membosankan. Cara penulis menggambarkan pemain dan suasanan tidak membosankan dan tidak berlebihan. Hal ini menandakan bahwa literasi novel Negeri 5 Menara dibuat sedemikian rupa agar nyaman dibaca oleh semua orang.

Penggunaan bahasa juga sangat sederhana dan mudah dipahami. Penulis mengungkapkan setiap kisah dan kejadian dengan sederhana.

Dalam novel Negeri 5 Menara ini banyak sekali motivasi yang menjadi pembakar semangat sendiri. Bagi kamu yang sedang menuntut ilmu, jauh dari orang tua, banyak ujian yang sulit, keadaan ekonomi yang pas-pasan, novel Negeri 5 Menara bisa memberikan motivasi dan semangat tersendiri untuk tikda mengeluh dan menyerah.

Dengan membaca novel Negeri 5 Menara ini juga kita bisa mengetahui bahwa pondok pesantren tidak hanya mengajarkan tentang agama.

Contohnya di Pondok Madani ini di mana siapa pun bisa mengembangkan bakat sesuai dengan minatnya. Mulai dari Basaha, Kesenian, Beladiri, Olahraga, Jurnalistik, dan lain-lain.

Kekurangan Novel Negeri 5 Menara


Satu-satunya kekurangan dalam Novel Negeri 5 Menara adalah nama tokoh-tokoh yang tidak terlalu bisa diingat dari segi karakter dan gambaran. Bisa jadi karena terlalu banyak tokoh. Tapi memang setiap tokoh yang disebutkan memiliki bagian dan peran tersendiri.

Unsur Ekstrinsik Novel Negeri 5 Menara


Ahmad Fuadi, lahir di Bayur, kampung kecil di pinggir Danau Maninjau pada tahun 1972. Lulusan UNPAD jurusan kuliah Hubungan Internasional membawanya menjadi wartawan majalah Tempo.

Mendapat banyak beasiswa dan kesempatan belajar di luar negeri membuatnya memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman.

Di kalangan pecinta novel Indonesia, Ahmad Fuadi bukanlah sosok yang asing. Beliau dikenal sebagai salah satu penulis novel Indonesia yang terkenal.

Selain novel Negeri 5 Menara, karya lainnya yang tidak kalah bagus seperti Ranah 3 Warna dan beberapa novel lainnya.

Novel Negeri 5 Menara bisa mengubah perspektif pembaca tentang kehidupan di pesantren.

Ringkasan novel Negeri 5 Menara


Ada banyak hal menarik dalam novel ini. Mulai dari keputusan Alif yang merantau ke Jawa yang terus menerus membuatnya gelisah, terlebih ketika mendapat surat dari Randai.

Kisah tentang Sahibul Menara memberikan banyak motivasi tentang pendidikan. Namun selain persahabatan, cita-cita, mimpi, yang lebih penting adalah bakti kepada orang tua.

Setidaknya ada 2 pesan penting dalam novel Negeri 5 Menara, yaitu bersungguh-sungguh dan ikhlas. Selalu ingat kata-kata ini "Man jadda wa jadda", artinya, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Saat membaca novel ini, kita tidak banyak menganalisis. Karena hampir setiap kejadian telah di analisis sendiri oleh penulis. Kita pembaca cukup menikmati alur dengan membacanya. Bukan berarti kita tidak ingin buru-buru untuk segera membaca bagian bawahnya peristiwa selanjutnya.


Demikianlah sinopsis novel Negeri 5 Menara Lengkap karya Ahmad Fuadi lengkap dengan unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Tidak ketinggalan kelebihan dan kekurangan novel Negeri 5 menara. Ini termasuk salah satu novel Indonesia yang recommendet.
  April 06, 2019
Comment Policy: Tulis Komentar Anda Sesuai dengan Isi Artikel!
Buka Komentar
Tutup Komentar
close