Skip to main content

Pembalasan Hak Siapa?

Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! Kita pasti sering mendengar ungkapan tersebut. Namun bagaimana caranya? Apa iya, di dunia yang nyata dan bukan film kita bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan? Kabar baiknya hal itu sangat mungkin dan bisa terjadi. Why not? Pahami ini dulu, pembalasan bukanlah hak manusia.
Khotbah tentang jangan menghakimi dan pembalasan hak siapa?
Pembalasan hak siapa? - pixabay

Dalam suatu ibadah sharing PPGT, pelayan firman dengan lantang mengajukan pertanyaan dalam khotbahnya tentang jangan menghakimi, Mengapa kita tidak boleh menghakimi? Mengapa manusia tidak diperkenankan menghakimi manusia? Jawabannya ada dalam renungan hari ini tentang pembalasan hak siapa?

Pembalasan Hak Siapa?


Roma 12:17-21

Dari pembacaan kita hari ini dari Roma 12:17-21 dengan jelas bahwa pembalasan adalah hak mutlak yang berada di tangan Tuhan. Siapakah kita sehingga kita menghakimi sesama manusia?

Dalam Ibrani 10:30, dengan jelas dikatakan:

Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya."

Mengapa kita menaruh dendam terhadap orang yang telah melakukan kejahatan kepada kita? Tidak ada gunanya. Atau tidak tahukah kita bahwa dendam terhadap orang lain hanya akan menyiksa diri sendiri?

Karena itu, pada ayat 17 dan ayat 18 pembacaan kita dari Roma 12 ini memberikan nasehat agar hidup dalam perdamaian dengan semua orang dan sebisa mungkin untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Mengapa kita tidak boleh menghakimi?

Pembalasan dendam adalah pelanggaran terhadap otoritas Tuhan.

Kadang kita berpikir untuk memberikan pelajaran kepada mereka yang telah menghina, dan menyakiti hati kita. Namun dalam ayat 19 dengan jelas dikatakan bahwa janganlah kamu menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

Bukan tugas kita untuk membalas kejahatan dan bukan tugas kita untuk menghakimi sesama manusia.

Cara balas dendam terbaik dapat ditemukan di ayat 20: Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

Nasihat terakhir yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan orang Kristen yang percaya dapat dilihat pada ayat 21, yaitu janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! Luar biasa firman Tuhan.

Kita dapat melihat beberapa teladan dalam Alkitab tentang mengasihi musuh. Tuhan Yesus sendiri memberik perintah untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya.

Apa yang dapat kita pelajari dari semua ini?

Semakin kita membenci orang yang tidak menyukai kita maka semakin kita akan menderita. Namun sebaliknya, semakin mereka membenci kita dan kita semakin menunjukkan kasih yang tulus terhadapnya, maka percayalah, kita juga akan lebih berbahagia. 

Dendam dan pembalasan bukanlah hak kita. Oleh karena itu, kita juga tidak boleh menghakimi sesama manusia. 

Baiklah kita mendoakan mereka yang menganiaya kita. Dan jangan mendoakan kecelakan mereka. Sama seperti Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:60 yang tidak menghakimi atau menuntut balas terhadap orang yang menganiayanya.

Hiduplah dengan damai seorang akan yang lain. Sekalipun engkau dihina dan dianiaya, berusahalah untuk bahagia dan berserah penuh di dalam Tuhan. Jangan menghakimi atau pun membalas dendam, karena itu bukanlah hakmu. Jika ingin hidup damai dan bahagia, lepaskan segala kepahitan dendam di dalam hati.

Mari kita buktikan bahwa kejahatan dapat dikalahkan dengan kebaikan. Mengasihi orang yang membenci kita dapat mengalahkan mereka. Dan tidak seorang pun yang dapat merendahkanmu karena mengasihi.
  November 06, 2018
Semoga Sukses: 1 Kalimat Terbaik dari Anda Adalah Motivasi Bagi Saya!
Bagaimana Pendapat Anda?
Terima Kasih!
close