Skip to main content

Khotbah Kristen tentang Ketaatan Seorang Hamba

Khotbah Kristen Terbaru - Hari ini Tuhan, kami bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk mendengar firman kebenaran-Mu dalam sebuah khotbah Kristen tentang "Ketaatan seorang hamba."
khotbah Kristen tentang ketaatan kepada Tuhan
Khotbah Kristen Ketaatan Seorang Hamba - pixabay

Ketaatan Seorang Hamba


Bahan Alkitab Yesaya 53:4-10

Syalom! Dari pembacaan kita hari ini dari Yesaya 53:4-10 diberikan suatu tema perenungan "Ketaatan Seorang Hamba."

Apakah kita termasuk hamba yang setia dan taat? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat dulu apa yang menjadi tolak ukur suatu pengabdian dapat dikatakan sebagai kesetiaan sejati.

Apakah yang menjadi tolak ukur ketaatan seorang Kristen dalam kedudukannya sebagai hamba Tuhan? Apakah kita bisa mengatakan bahwa kita setia kepada Tuhan ketika kita rajin ke gereja, rajin membaca Alkitab, rajin berbuat kebenaran? Tuhan saya setia kepada-Mu karena saya sudah setia mengikuti jalan-Mu dan setia merenungkan firman-Mu. Apakah itu sudah termasuk setia terhadap Tuhan?

Apakah kita bersedia mati demi Injil? Bisakah kita menyangkal diri kita atas dasar kesetiaan kepada Tuhan Yesus? Jika kita sudah melakukan semua itu apakah kita sudah setia? Sebelum mengetahui tentang apakah kita setia atau tidak, terlebih dahulu kita memberikan alasan kita, mengapa kita setia kepada Tuhan? Untuk apa Bapak dan Ibu, Saudara sekalian setia mengikut Tuhan Yesus?

Dalam Injil Markus 10:28-30, berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki, saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa itu juga akan menerima seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.

Rupanya Petrus mengikut Tuhan Yesus karena ingin mendapatkan upah. Hal ini juga yang dilakukan oleh Yohanes dan Yakobus. Mereka ingin mendapat kedudukan, karena itu mereka mengikut Tuhan Yesus. Namun pada akhirnya, mereka menjadi hamba-hamba yang setia mengikut Tuhan Yesus. Bagaimana mereka bisa setia? Karena mereka memiliki pengharapan di dalam Yesus tentang keselamatan yang akan datang dalam hidup yang kekal.

Kembali ke perikop pembacaan kita hari ini tentang kesetiaan seorang hamba. Dalam Yesaya 53, menubuatkan tentang kedatangan Tuhan Yesus sebagai Mesias yang akan menjadi jalan keselamatan bagi banyak orang. Tuhan Yesus telah memberikan teladan tentang cara menjadi hamba yang setia dan taat.

Yesus rela menderita untuk menanggung kesalahan kita, kesengsaraan yang ditanggungnya untuk keselamatan kita dan banyak orang tidak mengerti tentang itu. Dia dianiaya tapi tidak membuka mulutnya. Bahkan sampai mati di kayu salib pun, Ia tetap diam dan taat kepada perintah Bapa-Nya yang telah mengutusnya. 

Apakah kita mau menanggung kejahatan seseorang? Lebih paranya lagi, kita dianggap bersalah terhadap kesalahan yang tidak pernah kita perbuat? Tuhan Yesus selalu setia dan taat kepada perintah Bapa-Nya.
Bagaimana dengan kita? Kadang kita menganggap diri kita setia saat kita membaca Alkitab. Kita menganggap bahwa kita telah sangat setia ketika kita memberikan banyak waktu terhadap pelayanan di gereja. Tapi ketika penganiayaan tiba, kita berseru dan mengeluh kepada Tuhan. Apakah kita benar-benar telah setia dan taat sebagai seorang hamba? 

Tidak sedikit orang yang murtad karena penganiayaan dan ketidaksanggupan menghadapi masalah dunia. Kita berpikir bahwa saat kita hidup di hadapan Tuhan, semuanya akan tetap baik-baik saja. 
Mari kita lihat perjalanan murid-murid Tuhan Yesus, mulai dari Stefanus yang rela mati karena Injil. Bukankah dia seorang hamba yang penuh dengan Roh? Tapi dia menderita bahkan mati dalam kesetiaannya. Bagaimana dengan kisah perjalanan Rasul Paulus dalam pelayannya? Penuh dengan penganiayaan, disiksa dan diperjarakan. Tapi mereka selalu optimis dan memiliki pengharapan yang teguh di dalam Injil yang mereka beritakan.

Seperti murid-murid Tuhan Yesus, kita pun harus mengingat bahwa Tuhan mengijinkan cobaan terjadi dalam kehidupan kita. Dia tidak pernah berjanji bahwa langit akan selalu biru. Tapi Dia berjanji memberikan kekuatan kepada mereka yang percaya.

Ketika kita hamba, kita tidak perlu takut dengan masalah kehidupan. Ke mana pun Tuhan membawa kita, kita setia dan taat. Saat Tuhan membawa kita keluar dari rencana kita sendiri, kita akan mengatakan: "Tuhan aku ikut!" Saat semua yang kita alami seakan sulit dimengerti, kita ingat bahwa kita hamba, kita katakan: "Tuhan, aku taat!"

Dalam 2 Samuel 16:5-14, saat Raja Daud meninggalkan Yerusalem karena pemberontakan Absalom, anaknya sendiri, kita pun melihat ketaatan Daud kepada Allah. Ketika ia dikutuk oleh Simei, ia tetap diam dan berkata kepada pegawainya demikian: "Biarlah ia mengutuk! Sebab jika Tuhan berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya, mengapa engkau berbuat demikian?" Dalam keadaan lemah, Daud tetap menerima semua yang terjadi atasnya dan tidak mau menyalakan Tuhan.

Jika kita adalah hamba yang setia dan taat, kita harus sadar bahwa kita hanyalah hamba. Saat Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi di dalam kehidupan kita, kita akan mengatakan: "Tuhan, aku tunduk! Jadilah kehendak-Mu." Jika kita sudah berani memandang segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan pada waktunya maka kita adalah hamba-hamba yang setia.

Marilah kita semua yang hadir saat ini sama-sama berkata: "Tuhan, aku hanya hamba! Aku tunduk kepada semua rencana-Mu yang terjadi dalam kehidupanku. Ke mana pun engkau membawaku, aku taat dan ikut. Karena aku percaya, segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang percaya. Jadilah kehendak-Mu! Amin.

Apakah kita termasuk hamba-hamba yang setia dan taat terhadap Tuhan? Jika kita membaca firman Tuhan, itu adalah kewajiban. Ketika kita ke gereja, itu karena panggilan Tuhan. Setia kepada Tuhan adalah hidup di hadapan-Nya dengan percaya dan tidak khawatir dengan rencana Tuhan.
Demikianlah khotbah Kristen tentang ketaatan seorang hamba. Apakah kita termasuk setia dan taat? Jawablah bukan dengan perkataan tetapi dengan sikap hidup. Semoga khotbah Kristen ini bermanfaat dan dapat mengubahkan setiap kita yang percaya. Tuhan Yesus berkati!

  October 23, 2018
Comment Policy: Tulis Komentar Anda Sesuai dengan Isi Artikel!
Buka Komentar
Tutup Komentar
close